Image Source : youtube.com/cumicumi
Seiring berkembangnya waktu, Indonesia kini tengah dihadapkan dengan sebuah fenomena. Yakni, krisis diabetes yang kian nyata. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia 2023, prevelansi diabetes melitus meningkat tajam. Dari 5,7% di tahun 2007, menjadi 11.7% di tahun 2023.
Salah satu hal yang paling mengkhawatirkan, diabetes melitus tak lagi menjadi 'penyakit orang tua', dan banyak pengidap, kini berusia di bawah 20 tahun. Bahkan, beberapa dari mereka sampai harus menjalani pengobatan cuci darah.
Menanggapi fenomena ini, dr. Ngabila Salama pun memberikan pendapatnya ketika hadir sebagai pembicara, di acara podcast Special Interview, yang tayang pada 7 Juni 2026 di kanal Youtube Cumicumi.
"Diabetes itu komplikasi terseringnya itu adalah cuci darah. Kenapa terjadi cuci darah? Karena gagal ginjal sudah stadium akir. Oke. Dan itu sudah terjadi. Makanya sekarang anak-anak muda dewasa pada cuci darah" ucap dr. Ngabila Salama
Menurut dr. Ngabila Salama, gaya hidup dan pola makan, merupakan salah satu faktor terbesar dari fenomena ini. Mengingat, makanan dan minuman berkemasan, kini kian menjamur. Setiap sudut toko kelontong hingga tepi jalan, makanan dan minuman kemasan semakin mudah ditemui. Terkadang, mengandung gula yang lebih tinggi dari batasan anjuran kementrian kesehatan.
"Ya gimana minumannya setiap hari minuman kemasan. Teh-teh kekinian, kopi-kopi kekinian pinggir jalan sekarang gerobakan tinggal pilih aja tuh kopi mau yang mana ya kan tidak bisa juga diatur less sugar atau enggak no sugar yang bagus no sugar atau less sugar dia minum melebihi-lebihi ya kan melebihi batasnya ke menkas sehari 4 sendok makan gula per hari selesai" lanjutnya.
Lewat kehadirannya di acara podcast Special Interview di kanal Youtube Cumicumi, dr. Ngabila pun memberikan pesan kepada masyarakat, untuk terus mengontrol kadar gula dalam diri. Bagi siapa yang memiliki gejala atau indikasi, pemeriksaan dilakukan 1 hingga 3 bulan sekali.
"...Yang pengin saya sampaikan adalah juga bahwa kadar gula darah ini harus kita deteksi secara rutin. Iya. ya 1 bulan sekali pada orang yang sudah ada gejala atau HBL1C 3 bulan sekali" tutupnya